BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �

Senin, 11 Februari 2013

HAYOOOOOOOOOOOOO

MENJADI JUTAWAN SEJATI
1 MILYAR PER HARI......Rp3.611.350.000!
http://www.Negerijutawan.com/?id=Liashona

Banner Usaha Menjanjikan

















Banner






Jumat, 23 November 2012









BAGI YANG BERMINAT SEGERA HUBUNGI KONTAK PERSON YANG TELAH TERCANTUM. KAMI MENERIMA SEMUA PESANAN TERMASUK TIDAK BERJENIS RAJUTAN SEKALIPUN. HARGA PABRIK/SEPEREMPAT HARGA JUAL PASAR. SEMUA DESAIN BISA DIBUAT ATAU KAMI YANG MENDESAIN. ASAL ADA MODAL DAN ANDA INGIN BEKERJASAMA DENGAN KAMI, SEMUA AKAN BERJALAN LANCAR!

TTD
LIA WULAN SAFITRI-PR,GSJ

Rabu, 19 September 2012

Peran Jeruk Bagi Lingkungan


Green Student Journalists

Terbit di Koran Ripos, Riau Pos Pekanbaru, 9 September 2012 lalu

Bisa dilihat/di akses di website “greenstudentjournalists.blogspot.com atau liawulansafitri.blogspot.com/prettygood.blogspot.com”



Jeruk:  Jeruk merupakan salah satu buah yang sudah dikenal masyarakat. Selain mengandung vitamin C juga bisa menyembuhkan beberapa penyakit.(Ft.Lia_GSJ)


Peran Jeruk Bagi Lingkungan

Jeruk merupakan salah satu buah yang sudah dikenal masyarakat. Selain mengandung vitamin C juga bisa menyembuhkan beberapa penyakit, yaitu menurunkan kolesterol, menyembuhkan bibir pecah-pecah, sariawan dan lainnya.

Buah ini merupakan salah satu jenis buah paling popular di belahan dunia manapun. Rasanya yang variatif, mulai dari manis, asam, hingga campuran keduanya. Sehingga membuat buah ini mudah akrab dengan lidah masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia.

“Terlebih tak cuma buahnya saja yang bermanfaat dan halal dikonsumsi. Kulit jeruk pun bermanfaat bagi kehidupan manusia,” kata Dedeh Srigayanti, mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jurusan Ilmu Komunikasi dan Humas sambil tersenyum.

“Bagian buah jeruk yang sering terlupakan ini dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil,”tambahnya.

Dunia teknologi yang semakin canggih telah membuka wahana baru tentang semua itu. Membuka cakrawala melakukan eksperimen sesuatu yang telah Allah SWT ciptakan. Karena semua sumber daya alam yang telah Allah ciptakan tentu ada manfaatnya bagi kehidupan manusia itu sendiri.

Menimbang saat ini kondisi lingkungan juga semakin buruk akibat penggunaan bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan. Sehingga jumlahnya semakin lama sudah mulai menipis. Bagitu banyak dampak yang ditimbulkan akibat penggunaan bahan bakar ini, salah satunya yang menjadi masalah global dan perlu penanganan segera yaitu mengenai isu global warming.

“Dampak ini tidak hanya berpengaruh terhadap keadaan lingkungan saja, namun juga berdampak terhadap kehidupan makhluk hidup yang ada di bumi,” sambung Melani Imelda Dahlia yang juga Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jurusan Ilmu Komunikasi dan Humas meyakinkan.

Kulit jeruk ini ternyata mengandung minyak atsiri yang mudah menguap dan terbakar. Minyak atsiri yang telah diketahui sangat baik sebagai alternatif bahan bakar  yang ramah lingkungan. Sehingga  nantinya diharapkan dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil. Bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis tentunya.    Dari kulit jeruk itu juga terdapat sebuah bahan kimia bernama limonene yang bisa digunakan untuk keperluan kosmetik dan produk kebersihan.

Saat ini para ahli tengah mengembangkan segala kemungkinan untuk menggantikan bahan bakar minyak yang semakin lama semakin habis. Selain itu semakin meroketnya harga bahan bakar, membuat banyak orang berlomba-lomba untuk menemukan bahan bakar alternatif.

Winda Hidayatul Habibah, Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jurusan Biologi mengatakan, semua tidak terlepas dari ulah manusia itu sendiri. Akibat kerakusan segelumit manusia di belahan bumi ini, semua lapisan masyarakat dunia merasakannya.
“Sehingga dibutuhkan alternatif untuk memanipulasi hal tersebut. Tentunya semua adalah bahan yang ramah lingkungan. Agar global warming dapat dicegah,” ujarnya lagi.

Kulit jeruk dipilih karena hampir di seluruh dunia mengkonsumsi jeruk. Apalagi Brazil yang terkenal sebagai negara penghasil jus jeruk terbesar di dunia. Dari sini saja terdapat sekitar 8 juta ton kulit jeruk yang terbuang sia-sia.

Selain kulit jeruk, beberapa limbah lain yang bisa diproduksi menjadi bahan bakar alternatif diantaranya jerami, kerang, kulit apel, kopi, dan padi. Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang kulit jeruk. Supaya potensi minyak atsiri yang ada di dalam kulit jeruk dapat di dimanfaatkan kepada masyarakat, sehingga dapat membantu mengatasi masalah tentang bahan bakar.(lia-gsj/dac)
Posted in: GSJ News
Note: Format asli ada di alamat di atas.

Minggu, 22 Juli 2012

Minyak Jarak, BBM Alternatif Ramah Lingkungan

Terbit 1 Juli 2012 - 09.07 WIB > Dibaca 722 kali, Ripos, Pekanbaru

INDONESIA sangat banyak memiliki varian tumbuhan yang menghasilkan minyak, mulai dari kelapa, kelapa sawit, jarak, dan masih banyak tumbuhan lain yang menghasilkan minyak. Tumbuh-tumbuhan ini belum dimanfaatkan dengan baik. Hal ini terutama tidak adanya penelitian teknologi terkait sumber daya hayati ini.

Padahal, bahan bakar alternatif  dari tumbuhan  sudah pasti akan menjadi bahan bakar ramah lingkungan paling dicari di masa depan. Ketika persediaan minyak  bumi dunia semakin sedikit dan harga minyak dunia semakin mahal. Selain itu, minyak ini terbakarnya cenderung sempurna, terbakar teratur dan tanpa jelaga. ‘’Hal yang menarik adalah minyak ini dapat dihasilkan kembali.,’’  ucap siswi SMAN 1 Kabupaten Kuansing, Cyntia Novanda.

Sampai saat ini, pengelolaan terbesar atas tumbuhan adalah kelapa dan kelapa sawit. Namun minyak  dari kedua jenis tumbuhan ini sudah ditetapkan sebagai minyak konsumsi, sehingga tidak ekonomis dijadikan bahan bakar. Selain harga akan lebih besar dijual sebagai bahan makanan, harga di pasar pun cenderung sudah tinggi. Ini menjadikan minyak dari kedua tumbuhan ini tidak ekonomis dan merugikan dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif.

Minyak  jarak  adalah minyak yang saat ini dilirik sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan dan dapat diproduksi kembali. Namun sampai saat ini, industri dan perkebunan jarak tidak se-intensif kelapa dan kelapa  sawit,  selain adanya tekanan dari  negara lain berupa kebijakan standarisasi yang mengacu kepada teknologi Eropa dan Amerika.

 Menurut  analisis kimia, bahan bakar beroksigen menimbulkan risiko oksidasi terhadap komponen mesin pemakai, dan kemungkinan oksidasi biologis yang mengakibatkan penyimpanan bahan bakar bio ini lebih sulit dari pada bahan bakar minyak bumi.

“Meskipun demikian, minyak jarak sangat memiliki prospek ke depan yang lebih cerah sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan. Untuk itu, tidak ada  salahnya dikembangkan demi kehidupan yang lebih baik bagi  lingkungan sekitar,” ucap siswi SMAN Pintar Kabupaten Kuansing,  Tria Marta Gusnisa.

Jarak (Ricinus communis) adalah tumbuhan liar setahun (annual) dan biasa terdapat di hutan, tanah kosong, di daerah pantai, namun sering juga dikembangbiakkan dalam perkebunan. Tanaman ini tergolong tanaman perdu, memiliki daun tunggal menjari antara 7 - 9, berdiameter 10-40 cm.

Minyak jarak adalah minyak nabati yang diperoleh dari ekstraksi biji tanaman jarak (Ricinus communis). Dalam bidang farmasi dikenal pula sebagai minyak kastroli. Sejenis tanaman pagar  yang dapat hidup  dan ditanam dimana saja dengan lingkungan tanah yang tidak  suburpun tetap hidup, sehingga pengelolaanya sangat mudah dan tidak perlu biaya yang besar untuk merawatnya.

“Minyak ini serbaguna dan memiliki karakter yang khas secara fisik. Pada suhu ruang minyak jarak berfasa cair dan tetap stabil pada suhu rendah maupun suhu sangat tinggi, “ kata Mahasiswi FKIP Universitas Riau, Dwi Marita Febriani.Minyak jarak diproduksi secara alami dan merupakan trigliserida yang mengadung 90 persen asam ricinoleat. Minyak jarak juga merupakan sumber utama asam sebasat, suatu asam dikarboksilat.(lia-gsj/dac)

Rabu, 18 Juli 2012

Industri Serat Sabut Kelapa Ramah Lingkungan


 Tulisan ini terbit 26 juni 2012 di hal. Ripos, GSJee Pekanbaru
PERKEMBANGAN IPTEK di kancah dunia sudah tidak dapat dipungkiri lagi keberadaannya. Untuk itu, banyak sekali perubahan yang terjadi disekitar kehidupan manusia. Berbagai sektor mata pencaharian manusia adalah dampak dari IPTEK tersebut. Sayangnya, tidak semua  dampak yang dihasilkan adalah positif terutama bagi lingkungan sekitar. Sehingga dibutuhkan alternatif lain agar dihasilkan sesuatu yang ramah lingkungan.
Salah satu dari pengaplikasiannya adalah  sifat  fisika-kimia  serat. Sifat tersebut mengundang kesadaran konsumen untuk kembali ke bahan alami yang tentunya ramah lingkungan.  Serat sabut kelapa salah satunya.
Sifat fisika-kimianya yang dapat menahan kandungan air dan unsur kimia pupuk, serta dapat  menetralkan keasaman tanah menjadikan  hasil dari serat  sabut kelapa ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Sehingga meningkatkan pendapatan petani/pedagang buah kelapa.
 Pemanfaatan sabut kelapa sebagai bahan baku industri ini menjadi komoditi perdagangan. Terbukanya kesempatan kerja baru, yaitu dalam bentuk adanya pedagang pengumpul sabut kelapa serta usaha jasa transportasi.
“Selain itu, digunakan sebagai media  pertumbuhan tanaman hortikultur dan media tanaman rumah kaca. Sehingga, dapat menetralisir efek rumah kaca dan ramah lingkungan,” ucap  Kiprah  Piawi,  Siswi  SMAN Pintar  Kabupaten Kuantan Singingi.
Serat sabut kelapa  dimanfaatkan menjadi bahan baku industri karpet, jok dan dashboard kendaraan,  kasur,  bantal, dan hardboard. Serat  sabut kelapa juga dimanfaatkan untuk pengendalian erosi. Serat sabut kelapa diproses untuk  dijadikan Coir Fiber Sheet  yang digunakan untuk lapisan kursi mobil, Spring Bed dan lain-lain.
“Tidak salah bila orang menyebut kelapa adalah jenis pohon yang serba guna. Mulai dari akar sampai daun dan terutama buahnya. Terutama sabut kelapanya juga dapat dimanfaatkan sebagai alat-alat  industri  dan kebutuhan rumah tangga yang ramah  lingkungan,” ucap Ayu Kumala Rezeki, Siswi SMAN 1  Teluk  Kuantan.(Lia-gsj/dac)