Layaknya Sekolah Menengah Atas pada umumnya, SMAN Pintar juga melakukan serangkaian kegiatan sebagai bentuk aspirasi kebahagiaan akan terselesainya ujian semester beberapa hari yang lalu. Serangkaian kegiatan tersebut sudah pasti menjadi ajang dalam mengembangkan bakat serta ajang dalam menjalin silatuhrahmi antara penghuni SMAN Pintar. “Class Meeting” adalah nama untuk serangkaian kegiatan tersebut. Terlalu sempit bila hanya mengartikan dan memandang “Class Meeting” sedemikian rupa. Mengapa? Karena “Class Meeting” memiliki makna lebih luas dari yang terbayangkan yaitu, sebagai ajang dalam menjalin dan mengetahui dunia pendidikan luar dalam menunjukkan kebolehan dan prestasi yang dimiliki oleh sekolah masing-masing. Semua akan menjadi cambuk motivasi membangun pemuda-pemudi berprestasi. Pada 18-22 Desember 2012 ini merupakan rentang waktu “Class Meeting” yang telah ditentukan oleh OSIS SMAN Pintar Kab. Kuansing. Dengan sedikit arahan dari Kepala Sekolah SMAN Pintar, Bpk. Zulhefis. SPd. M.M yang diiringi pembacaan “Basmalah” bersama-sama, acara “Class Meeting” TA 2011/2012 sukses diresmikan. Semua penghuni SMAN Pintar baik itu Guru, Siswa-siswi, Satpam, OB (Office Boy), CS (Cleaning Service), Pembina asrama bertepuk tangan menyambut hadirnya acara tersebut. Beberapa serangkaian kegiatan “Class Meeting” SMAN Pintar Kab. Kuansing yaitu, Sepak Bola, Bola Dangdut untuk putri, Bola Voli putra dan putri, Bola takraw, Senam, Dances, Catur putra-putri, Bulu Tangkis tunggal putra-putri, Bulu Tangkis ganda putra-putri, Tarik Tambang putra-putri, Edit gambar. Semua perlombaan akan dilaksanakan di lingkungan SMAN Pintar itu sediri yang tentunya akan disesuaikan dengan kegiatan yang bersangkutan. Alhamdulillah semua acara berjalan lancar. Senin, 18 Desember 2012, tepatnya jam 16.00 WIB, bertempat di lapangan sepak bola SMAN Pintar, pertandingan Sepak bola dimulai sekaligus mengawali semua perlombaan yang diadakan SMAN Pintar Kab. Kuansing. Tepuk tangan Sporter masing-masing kelas begitu riuh dan hiruk bergeming di udara. Para pemain terlihat antusias memenangkan dan menunjukkan kekompakan masing-masing. Bola Voli Putri, Tarik Tambang Putri, Bola Takraw berhasil tuntas di laksanakan pada Selasa, 19 Desember 2012. Sedangkan untuk Bola Voli putra, Tarik Tambang Putra, serta Final Sepak Bola sukses berlangsung pada hari selanjutnya. Kamis, 21 Desember 2012, pertandingan Bola Dangdut tak kalah serunya berlangsung. Hiruk pikuk sporter dan jeritan serta gurauan siswi SMAN Pintar semakin menambah seru suasana. Semua menertawakan kelucuan yang terjadi saat pertandingan berlangsung. Terutama ketika alunan musik Dangdut dan DJ menggoncang lapangan sepak bola, suasana tak dapat terlukis lagi. Lia Wulan Safitri, siswi XII IPA 2 mengatakan”Ternyata bermain Bola Dangdut itu asyik apalagi saat musik dibunyikan, lelah dan amarah yang muncul saat pertandingan hilang seketika.” Ucapnya sambil tertawa sambil berkacak pinggang direkam oleh temannya. Jum`at, 22 Desember 2012, permainan catur dan edit gambar ternyata tak kalah mengundang perhatian para sporter. Kekreatifan masing-masing peserta dalam mengalahkan lawan sungguh mengagumkan. “Tak salah bila Rico Cahyanto XII IPA 2, anak olyimpiade TIK ini mendapat juara pertama. Selain jago dalam mengutak-atik computer, Rico terkenal dengan kekreatifan di balik keluguan tampangnya itu”, ucap Wulan Widyawati, Siswi XII IPA 1. Sedangkan di sudut ruangan kelas lain, tersungging senyum puas dari bibir Rido Ardison, perwakilan XII IPA 1 karena telah menjadi Champion catur putra saat itu. Malam harinya, jam 20.00 WIB, pertandingan senam dan dance terpilih menjadi puncak pertandingan seru saat itu. Dengan Champion sejati berhasil dipegang oleh kelas XII IPA 1 sebagai juara 1 dan XII IPA 2 juara 2 baik lomba senam maupun dance yang dilaksanakan saat itu. “Janganlah terlalu gembira dengan apa yang diraih. Tingkatkan semuanya serta jagalah kekompakan yang selama ini telah kalian bina,” ucap Ahmad Kamami, Guru Bahasa Jerman SMAN Pintar yang menjadi juri malam itu. Sedangkan pertandingan Bulu Tangkis tunggal putra-putri dan ganda putra-putri dilaksanakan malam hari, 19-21 Desember 2012 setelah sholat isya` dilaksanakan. Akhirnya, Sabtu, 23 Desember 2012 lalu, pengumuman serta pemberian hadiah juara hasil pertandingan “Class Meeting” TA 2011/2012 di bagikan sekaligus penyerahan rapor hasil semester ganjil. Juara umum “Class Meeting” tersebut berhasil diraih oleh XI IPA 2. Dengan di peroleh juara umum, tentunya berakhir juga acara “Class Meeting” yang ditutup kembali oleh Kepala Sekolah SMAN Pintar Kab. Kuansing.
Sabtu, 07 Januari 2012
"Lentera dalam Politik"
Sekelebat gumpalan awan hitam mencoba menutupi sebagian besar atmosfer yang membiru menghiasi bumi pertiwi. Terlihat seakan awan membiru mencoba mempertahankan perannya dalam kehidupan meski gumpalan awan hitam terus saja mengusik. Al hasil bagai “Mati Segan Hidup pun Tak Mau”. Setetes air hujan membasahi telapak tanganku. Kutebas dengan perasan galau tak menentu. Mataku terus saja memandang kebelakang, memandang kepergian orang tuaku. “Tik…Tik…Tik”, tetesan airmata terus mengalir membasahi kedua pipiku. Kubiarkan semuanya terjadi dan meluap begitu saja. “Braaaaakkk”, kuhempaskan pintu kamar dengan sangat kuat lalu kuhempaskan tubuhku ke kasur. Kubiarkan tubuh ini terbaring lunglai dengan tas ransel menemaniku. Ransel yang berisi barang-barang lengkap layaknya mau pindah rumah seakan ingin berkata sesuatu padaku. Aku tak kuasa untuk menduga apa maksud tatapan itu, sedangkan pikiranku terus melayang jauh. “Ayaaah, Ibu”, ucapku terhentak. “Hm pasti Ayah dan Ibu sudah di rumah sekarang, dan aku….”, kata-kataku terpotong. Terdengar suara di luar sana. Kulihat pintu kamar bergerak perlahan-lahan. Lama-kelamaan muncullah sesosok gadis tinggi, langsing, putih, cantik ditemani kedua orang tuanya masuk ke kamar. Mereka tersenyum padaku dan akupun membalas senyum mereka. “Hi, my name is Amrita. I come from SMPN 1 Batu Hijau, Majalengka. And this is my parent. And you?”, she said. “My name is Pretty. I come from SMPN 1 Batu Merah, Majalengka”, I said. “Senang bisa berkenalan dan sekamar denganmu, Pret”, ucap Amrita berusaha membalas senyumku. “ Begitupun denganku”, ucapku singkat. Tak lama setelah itu kedua orang tua Amrita pamit pulang. Tinggallah kami berdua. Mataku terus menatap lekat ke arah Amrita. Kuterdiam menatap binar matanya yang terasa asing bagiku. Kumencoba mencari jawaban melalui celah binar matanya itu. Kurasa aku semakin bingung dengan pikiran kacau yang terus menghantuiku. Tapi kuyakin ada rahasia dibalik semua itu. “Dag, dig, dug”, jantungku berdegup begitu cepat saat mata kami beradu. Begitu tajam tatapan matanya hingga menembus ulu hatiku. “BTW, gimana kalau kita beres-beres sekarang. Bentar lagi mau magrib tuch”, ucapku sekenanya. “Yuupzz”. Hanya kata itu saja yang keluar dari mulutnya. Keganjilan itu semakin terasa bagiku. “Huuf”, kehempas segala penat di dada sambil berusaha membereskan semuanya dengan cepat. Selama menyelesaikan pekerjaan masing-masing, mata kami berdua terus memandang sekeliling kamar baru kami. Kamar dengan nomor 212 yang merupakan nomor pahlawan favoritku, Wiro Sableng. Sebuah kamar baru yang mau tidak mau, suka tidak suka akan kami tinggali selama kami menjadi siswa-siswi SMAN Terpilih Kab. Majalengka. SMAN Terpilih Majalengka merupakan sekolah yang dibangun pemerintah daerah setempat bagi siswa-siswi pilihan masing-masing sekolah yang tersebar di Kab. Majalengka. Segala sesuatu tentang biaya pendidikan maupun hidup di asrama adalah tanggung jawab pemerintahan daerah setempat. Sehingga mereka yang menjadi siswa-siswi SMAN Terpilih hanya dituntut belajar dan mengukir prestasi yang gemilang hingga ke kancah dunia. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahunpun akhirnya menjelang. Tak terasa hanya tinggal beberapa bulan lagi aku akan meninggalkan SMAN Terpilih Kab. Majalengka. Segala suka duka telah menghiasi hariku selama berada di tempat tersebut. Sayang, tak tergambar sedikitpun suka kenangan manis ataupun moment penting nan indah yang terukir di hatiku. Hanya derita, penderitaan, penganiayaan bathin yang aku rasa dan dapatkan. Diperparah dengan ketidakadilan yang ditaburi politik adu domba di dalamnya. “Braaakkk”, kuhempas pintu kamar dengan kuat. Seperti biasa aku berbaring di kasur kesayanganku, kasur berwarna pink bermotip bunga Melati, bunga kesukaanku yang diperindah dengan gambar animasi-animasi serangga di sekitarnya. “Haaaaah! Aku benci semuanya. Semuanya sama saja. Munafik!” Ucapku saat itu. Kumenangis sejadi-jadinya. Tak terhitung lagi banyaknya airmata yang telah kukeluarkan selama aku berada di SMAN Terpilih itu. Kuremas bantal dan guling sekuat tenaga. Melepaskan segala sesal dan amarah yang sedang memburuku. “Ya Allah kenapa semua terjadi padaku? Apa salahku? Apa?” Aku terus berteriak tak menentu. Tanganku berusaha menggapai sebuah notebook yang berada di samping kasurku. Kubuka lembaran-lembaran notebook helai demi helai hingga lembaran terakhir. Kutuliskan semua keluh kesah yang menimpaku saat itu. Terbayang dengan jelas saat pembelajaran kimia tadi di kelas. “Mengapa selalu aku yang dibanding-bandingkan dengan dia? Mengapa hanya aku yang diperlakukan tidak adil seperti ini? Mengapa aku dikucilkan? Mengapa?” Airmataku semakin menghujani kedua pipiku. Mataku sembab dibuatnya. “Hah, aku tahu. Pasti karena aku bukanlah anak Majalengka asli kan? Karena aku anak pedalaman sehingga mereka begitu padaku? Kenapa harus seperti itu? Salahkah aku bila menjadi anak pedalaman Majalengka? Bukankah di sekolah ini adalah siswa-siswi pilihan yang seharusnya mendapat perlakuan yang sama? Ya kan?” Kataku semakin larut dalam kesedihan. Kukoyak habis isi bantal dan guling kesayanganku. Begitupun dengan semua barang-barangku yang sudah tidak berada di tempat yang semestinya. Kamarku kini tak ubahnya kapal pecah. Seketika tersungging senyum kecil dibibirku. Kutatap lekat kondisi kasur teman sekamarku. Berantakan penuh dengan taburan bedak yang kutumpahkan karena kemarahanku sendiri. Ada perasaan puas menyelimutiku. “Hm, tidak bisa aku bayangkan betapa lucu ekspresi wajahnya bila tahu kasurnya penuh dengan taburan bedak?” Ucapku puas. “Huuh, rasakan itu?” Aku menendang kasurnya hingga terjatuh dari ranjang. “Praaakkk! Auwww”, teriakku berkali-kali sambil menahan rasa sakit. Kakiku tersandung ranjang miliknya. Darah segar mengalir dari kaki kananku hingga aku bersujud tak sanggup berdiri. Kuurut kakiku meski aku sendiri tak tahu bagaimana cara mengurut . Setidaknya aku selalu memperhatikan Ibuku saat mengurut Ayahku. Di saat bersamaan, mataku tertuju pada sebuah benda yang tak lain dan tak bukan adalah sebuah notebook. “Bukankah ini adalah notebook milikku yang hilang seminggu yang lalu? Kenapa berada di bawah ranjang dia?” Lama sekali aku berpikir, pun tak kudapatkan jawabannya. Kutebas rasa sakit berusaha bangkit dan berjalan-jalan mondar-mandir tak tentu arah mencari jawaban yang sebenarnya. “Aha! Aku tahu sekarang”. Senyum sinisku mengembang seketika mengisyaratkan sesuatu yang selama ini telah menjadi hipotesisku sejak lama. “Memang tidak ada yang pantas aku curigai selain dia. Akupun tidak memiliki alasan untuk tidak mencurigainya. Dasar munafik!” Kukeluarkan kata-kata yang kurasa sangat pantas untuknya. “Semua hinaan, cacian seharusnya ditujukan padanya bukan padaku? Aku berjanji tidak akan aku biarkan mereka menyakiti hatiku lagi. Ini adalah airmata terakhir yang kukeluarkan selama di sekolah ini, pun tak kan aku biarkan mereka menyakiti jiwa muda berprestasi selain aku”. Ucapku sambil meremas notebook hingga hampir terkelupas. “Biarlah hanya aku yang merasakan bagaimana sakitnya dianiaya bathin, bagaimana sakitnya dibeda-bedakan dan dikucilkan” Amarahku meluap melebihi kobaran api yang ingin melahap segala sesuatu yang menghalanginya. Kutertunduk lemas membayangkan kenangan pahit berbuah bibir itu. Tak ada yang bisa kulukiskan untuk mengungkapkan bagaimana sakitnya perasaanku saat itu. Ada perasaan gembira sekaligus sedih telah menemukan notebook yang seminggu ini kucari. Sedangkan hasrat untuk mengulang melodi pahit yang telah kutuliskan di dalamya bergelora. “Aaaaaa”, ucapku saat lembaran pertama kubuka. Debar jantungku seketika melambat saat membaca tulisan yang ada di sana. “Apa salahku? Kenapa harus aku? Kenangan perih pembelajaran kimia, 21 Juni 2009 ” Tertulis jelas di notebook. Keningku berkerut berusaha mengingat moment pahit yang tertera di situ. Garis-garis kerutan itu semakin terlihat seiring kumasuki dunia baru yang aku sendiri tak tahu kenapa semua itu bisa terjadi padaku dan hanya padaku. Pikiranku langsung tertuju kepada kejadian saat pembelajaran kimia, 21 Juni 2009 lalu. Saat itu, Pudja Malhoorta Guru Kimia SMAN Terpilih masuk kelas X 1 yang merupakan kelasku dulu saat masih duduk di kelas satu SMA. Perasaanku kacau seketika. Aku takut melihat kenyataan bahwa nilai ulangan kimiaku pasti di bawah KKM. “Ya Allah kenapa jantungku berdetak cepat? Semoga apa yang kutakutkan tidak akan terjadi”, Ucapku berulang kali sambil terus membaca istigfar. Sedangkan suara bu Pudja Malhoorta terus saja terdengar memanggil nama kami satu persatu, membagikan hasil ulangan. “Lia…”, Ucap Beliau singkat sambil menatapku dengan tatapan yang tak asing lagi bagiku. “Sungguh aku sangat membenci tatapan itu! Sedangpun perasaan galau tak jua menghilang dari ragaku” Akupun bergumam. Mataku memicing melihat nilai yang tertera di kertas ulanganku. “99?” Kubuka mataku lebar-lebar tak percaya dengan nilai yang kudapatkan. Tertulis jelas angka 99 di sana. “Ya Allah benarkah ini semua”, gumamku dalam hati. “Horeee”, ucapku puas. Kulihat ada sepasang mata yang memandang sinis ke arahku. Serasa tidak senang mengetahui bahwa aku mendapatkan nilai tertinggi. “Huuuh, tengok aja nanti siapa yang akan menjadi sang juara”, ucapku yakin dalam hati. Kuacuhkan perhatiannya seraya duduk manis mengisyaratkan perasaan bangga padanya. “Baiklah, sekarang buka buku halaman 97. Hari ini kita akan membahas bab baru tentang “Ikatan Kimia” Ucap Ibu sambil memandangku. Aku tertegun seakan telah mengetahui bahwa ini semua akan terjadi. Biasanya setelah pembagian nilai ulangan, Ibu Pudja Malhoorta selalu menanyakan siapa yang mendapat nilai tertinggi dan terendah sebagai cambuk meningkatkan motivasi kami. Ini ke tiga kalinya Ibu Pudja Malhoorta melakukan hal itu padaku. Sampai sekarang aku juga belum tahu apa maksudnya beliau melakukan hal itu padaku. Tersungging senyum bangga di bibir dia. Sedangkan Ibu Pudja Malhoorta bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kuusap dadaku perlahan menenangkan rasa sakit yang seketika mencambukku. “Tidak halnya bila dia yang mendapat nilai tertinggi. Ibu Pudja Malhoorta pasti dengan cepat memamerkan dan mempromosikan dia kepada kami semua” Airmataku tertahan dipelipis kelopak mata, pun hanya hitungan detik airmata yang telah membeku itu akan mencair dimakan panasnya api. Sekuat tenaga kuberusaha menepis segala rasa yang mulai membuatku sesak. Sulit rasanya bernapas karenanya. Kulihat Tina, temanku menggenggam erat tangan ini. Lirikan matanya seakan mengisyaratkan agar aku kuat menghadapi segala cobaan yang menderaku saat itu. Genggaman tangannya terasa hangat bagiku. Kuterharu sekaligus mendapatkan sedikit kekuatan dari pancaran senyum manisnya. “Hm, ya aku pasti bisa”, ucapku berkaca-kaca. “Aku tahu itu” Tina memperkuat genggamannya. Kami tertawa bersama, tidak memperdulikan sekian banyak pasangan mata dengan tatapan aneh memandang lekat ke arah kami. Waktupun bergulir dengan sangat cepat. Tak terasa sudah tiga minggu semenjak kejadian menyedihkan itu, aku pun terdiam untuk kesekian kalinya. Hari ini hasil ulangan kimia bab tentang “Ikatan Kimia” dibagikan. Aku tersenyum simpul membayangkan kejadian-kejadian unik yang aku temui. Tak ada alasan bagiku untuk tidak mengatakan seperti itu, karena kenyataannya aku sudah terbiasa. “Bismillahhirrahmannirrohhim,” Kutatap lekat nilai yang tertulis di kertas ulanganku. “70?” Angka itu tertulis jelas. Kuhela napasku dalam-dalam seraya telah menduga sebelumnya. Kulihat dia tersenyum puas padaku. Tanpa kudugapun aku tahu maksudnya. Benar saja semua terjawab tatkala Ibu Pudja menanyakan siapa yang mendapat nilai tertinggi. Dengan bangganya dia memamerkan kertas ulangannya ke depan. “Permainan apa ini? Aku muak, kurasapun ini sudah keterlaluan.” pikirku. Sorot matanya mengisyaratkan sesuatu kepada Bu Pudja. Aku dapat mengetahuinya karena kurasa itu adalah cara klasik mereka. Klasik untuk membuatku sakit hati akan permainan yang mereka buat sendiri. “Anak-anak kapan kita adakan remedial?” ucap beliau datar. “Sekarang, Bu,” ucapku seenaknya. “Baik. Kalau begitu sekarang buat yang nilainya di atas 70 dan di bawah 75 dulu ya, karena hanya sedikit saja kesalahannya,” Bu Pudja menambahkan. Spontan saja aku protes. “Darimana dan kapan peraturan baru itu di buat. Kenapa harus dipisah? Kenapa tidak sekalian saja biar sekaligus selesai?” Mataku menatap tajam ke arah beliau. “Tidak usah banyak protes. Salah sendiri nilainya terlalu jauh di bawah KKM,” Ucapnya santai. Desir-desir darah serasa menyembur seluruh urat nadiku, memaksa sarafku mengatakan sesuatu. Kutahan dalam kurun waktu yang tak sebentar. Aku diam dengan kepalan tangan yang semakin menggumpal menggenggam kuat tanganku. Akhirnya selesai juga untuk remedial yang di atas 70 dan di bawah 75. Tiba waktunya kami yang mendapat nilai di bawah 70. Kulirik jam yang menunjukkan 12.05 WIB. Sepuluh menit lagi bel ISHOMA akan berbunyi. Di saat bersamaan Bu Pudja juga melihat. Kurasa Beliau tahu apa yang sedang aku pikirkan. “Berhubung sebentar lagi bel berbunyi, remedial kita lanjutkan besok sore saja,” ucap beliau sambil menggendong tasnya siap meninggalkan kelas kami. “Tapi, Bu. Lia rasa waktu itu cukup kok untuk remedial,” ucapku dengan suara tinggi. “Besok saja. Ibu ada urusan,” ucap beliau sambil melenggang pergi. “Hangat tubuhku semakin tak beraturan. Semua sarafku menegang seketika, menahan segala rasa sakit yang semakin menghujaniku.” Kelopak mataku ternyata tak dapat lagi menahan airmataku. Butiran beningnya jatuh membasahi pipiku. “Tik, tik, tik…,” Notebook milikku semakin lusuh oleh butiran bening airmata. Perasaan sakit dan hancur semakin menyelemutiku. Kejadian masa lampau sungguh membuatku semakin pilu. Kuberanikan diri membaca tulisan notebook selanjutnya. “Whaaat?” Ucapku dengan mata terbelalak. Kumasuki dunia baru lagi. Dunia yang mengantarkanku pada situasi pahit dalam catatan yang kutulis 2 tahun lalu. Tak terbayang betapa aku bisa mempunyai penilaian buruk terhadap Ustadz Jefry, Guru Agama SMAN Terpilih Kab. Majalengka. “Ustadz, bagaimana? Apakah Pretty boleh pergi ke Pulau Duku, Majalengka?” Tanyaku pada suatu hari. “Hm, lebih baik sekarang kamu lebih fokuskan kepada pembelajaran saja. Ustadz ada urusan?” Ucap Beliau berlalu. “Tapi, kemaren ustadz bilang boleh…?” Aku tak kuasa meminta penjelasan, melihat sikap Ustadz seperti itu. Kuterdiam beberapa saat menikmati betapa sakitnya diperlakukan seperti itu, sedangkah langkah kakiku terus membawaku entah kemana. Berhenti tatkala telingaku mendengar suatu percakapan, pun kubaru tersadar bahwa aku berada di depan ruangan rapat sekolah. “Baiklah, Bapak/ Ibu sekalian, apapun keputusannya ini adalah jalan yang terbaik demi kepentingan kita bersama?” Ucap Bpk. Rahul, Kepala Sekolah SMAN Terpilih. “Tapi, Pak. Saya rasa cara itu kurang sesuai,” Ucap salah satu guru. “Kita cukupkan sampai disini.” Ucap beliau berlalu pergi tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya. Aku terhentak melihat keadaan demikian. “Semuanya sama saja. Murid, guru, kepala sekolah ternyata berhati iblis,” pikirku sambil berlalu pergi. “Astagfirullah,” Kuterjaga dari khayalanku. Kututup notebook milikku, tak kuasa membayangkan lagi kejadian naas masa lampau. Semuanya hanya akan melukiskan kenangan pahit baru dalam keidupanku di masa depan. ######## Tiga bulan akhirnya dapat kulewati, dan sekarang adalah hari dimana aku akan mengetahui nilai UN. Kuberebut untuk melihat daftar nama dan nilai UN yang terpajang di papan pengumuman. Terlihat dengan jelas nilaiku dicetak tebal pertanda nilaiku adalah nilai tertinggi. Aku terdiam hanya terdiam. Banyak sekali pemikiran yang tersangkut dibenakku. “Selamat ya, Pret. Akhirnya kamu bisa juga membuktikan bahwa kamulah yang terbaik bukan dia?” Ucapnya sambil tersenyum. “Terima kasih,” Ucapku singkat tanpa ekspresi. “Kring, kring,kring,” Handphone milikku berbunyi. “Hallo, ma`af ini siapa ya?” Ucapku datar. “Selamat ya, Dek. Adek diterima FK di Universitas Gemilang, Ancol.” Tambahnya. “Tut,tut,tut,” telepon terputus. Aku terdiam, lagi-lagi hanya terdiam. Melihat Amrita menangis tersedu-sedu. Apakah gerangan yang terjadi padanya? Mungkinkah ini jawaban dari segala do`aku? Atau ini adalah hukuman baginya? Lagi-lagi aku hanya terdiam.
Diposting oleh jasmine di 01.14 0 komentar
Rabu, 19 Oktober 2011
Pohon Tua Malang
Artikel ini bersama objek foto Sebuah "Pohon Tua Malang", berhasil memikat para pengunjung pacu jalur tahun ini dan mendapat juara dua. Foto tersebut adalah hasil foto yudha Syadeki Perdana Putera, salah satu siswa SMAN Pintar Kab. Kuansing.
Sebuah pohon tua yang malang. Bukankah begitu?
Lebih malang daripada yang terlihat. Pohon tua dengan begitu banyak ranting-ranting namun sama sekali tidak berdaun. Layaknya pepatah ” Mati Segan Hidup Tak Mau”. Hanya ada sekelebat tumbuhan yang hidup di pohon tersebut. Tak ubahnya benalu meski terlihat memberi sedikit warna kehidupan pada pohon tua yang malang.
Kondisi pohon tua itu, tak ubahnya dengan kondisi bumi pertiwi kita yang hampir tandus, gersang dan tak berwarna, mati oleh kegersangan yang kita buat sendiri.
Ya, meski bumi sekarang telah dipenuhi oleh kemajuan IPTEK dan IMTAQ sehingga dapat lebih kokoh dan indah dibuatnya. Namun dalamnya rapuh dan sama sekali tak bermanfaat dalam memberi kehidupan yang sebenarnya.
Sedangkan sekelebat tumbuhan itu, sama halnya dengan semua hal yang telah dilakukan pemerintah dalam mencoba menghijaukan bumi ini. Namun mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan ternyata sama halnya dengan menoreh benalu yang perlahan-lahan akan menyakiti orang banyak. Seperti pembuatan Green House yang dapat menyebabkan efek rumah kaca walaupun sebenarnya memberi keindahan.
Diposting oleh jasmine di 07.50 0 komentar
Ayo Sadar!
Nama: Lia Wulan Safitri-gsj
Sekolah: SMAN Pintar Kab. Kuansing
Artikel ini bisa dilihat di media massa Riau Pos terbitan 8 Oktober 2011 lalu. Minta do`anya agar menjadi tulisan terfavorit setelah evaluasi selama tiga bulan ok. Thanks
Sampah tak ubahnya benalu dalam kehidupan manusia saat ini. Mengapa demikian? Lihatlah lingkungan sekitar dengan seksama. Apakah ada pemandangan yang indah melainkan tumpukan sampah?
Sampah organik maupun nonorganik yang tersebar di mana-mana lah yang kini menjadi pemandangan indah di mata ini. Dengan aroma busuk dikelilingi berbagai jenis hewan menjijikkan di sekitarnya.
Nyamankah mata ini melihat keadaan seperti itu? Tak adakah keinginan untuk mengatasi masalah yang telah menjadi masalah global ini? Semua Negara di dunia baik Negara maju dan berkembang mempunyai masalah yang sama. Hanya saja Negara maju telah memiliki alternatif yang canggih dalam menangani masalah tersebut. Tidak halnya dengan Negara berkembang, seperti Indonesia.
Secara keseluruhan Negara berkembang masih relatif rendah tingkat kesadaran dalam menanggulangi sampah yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia.
Sebenarnya kalau ditinjau dari segi program pemerintah dalam menangani masalah sampah tersebut sudah lebih bisa dikatakan bagus. Tapi kenapa tak sedikitpun sampah berkurang apalagi hilang dalam kehidupan manusia?
Semua kesalahan ada pada kita sebagai manusia yang merupakan produsen sampah utama. Tingkat kesadaran dan rasa kebersamaan yang menurun secara drastis menyebabkan sifat individualisme tertanam dan melekat pada kepribadian jiwa saat ini.
Program 5R yang dicanangkan pemerintah, yaitu reduce berarti meminalisir pemakaian barang, reuse berarti pandai memilih barang yang tidak sekali pakai, recycle berarti kegiatan mendaur ulang sampah, replace berarti mengganti barang ramah lingkungan dan replant berarti melakukan reboisasi pun tidak dapat memberikan perubahan yang mendasar dalam menanggulangi masalah global ini.
Semua akan percuma dan sia-sia saja apabila program bagus tapi tidak dibarengi dengan rasa peduli dan sadar akan pentingnya kebersihan dan kehijauan dalam kehidupan manusia. Hal tersebut merupakan faktor penunjang sebenarnya dalam menanggulangi masalah tersebut.
Sayangnya, rasa peduli, sadar dan ikhlas dalam berbuat kebaikan dan melakukan sesuatu untuk kepentingan bersama telah berkurang bahkan hampir pudar dalam jiwa manusia. Ya, rasa kegotong royongan telah hilang. Sehingga dapat dilihat akibatnya.
Manusia sekarang mau tidak mau berteman dengan sampah. Setiap hari hanya sampah yang terlihat. Bergaul dengan sampah, sampah dan hanya sampah. Selain itu, faktor yang menjadikan sampah semakin menumpuk adalah terbatasnya suatu media atau tempat bagi sampah itu sendiri.
Pemerintahan Indonesia hanya memberikan tempat tak ubahnya tempat air minum atau gallon. Itupun diletakkan ditempat-tempat yang sulit terjangkau oleh manusia. Maksudnya untuk manusia dengan sifat dan kepribadian modern ini tak akan memberikan pengaruh untuk tempat yang seperti itu.
Manusia sekarang yang serba instant lebih menyukai tempat dengan media besar agar mudah memasukan sampah kedalamnya. Bukan tempat yang disediakan oleh pemerintah sekitar sekarang.
Jadi, bila ingin mengembalikan kehidupan hijau dalam kehidupan manusia maka tumbuhkanlah sifat sadar, rasa peduli dan ikhlas dalam berbuat sesuatu untuk kepentingan bersama. Sediakan juga tempat lebih banyak untuk sampah tersebut. Selain itu, perbanyaklah mempekerjakan tukang kebersihan agar memberikan sedikit bnayaknya bantuan dalam menciptakan kebersihan.
Diposting oleh jasmine di 07.17 0 komentar
Sabtu, 01 Oktober 2011
Citaku Jauh
Terlampau indah untuk memilih
Mengenang sejuta cita akan impian
Sedangkan aku apalah daya
Meredam ingin berhias dusta
meracun ilmu
Peluangtak kan pun kuraih
Terlampau jauh angan ini memburu
Merindu keberuntungan menghampiri
Sesosok jiwa yang letih akan kemunafikan dunia
Sampai kapan…???
Bersanding keringat tak terbatas
Beraroma sia-sia
Semua tak jua berarti
Aku hilang, Aku…
Haaaaaaaaaahhhhhhhh
Menggores tanpa makna , melukis berjuta duka
Arti kesedihan yang tersisa
Beriring penganiayaan sukma menyambut perih
Pilu, sepi jiwaku sesepi jiwa mereka
Terdengar rintihan menyayat ulu hatiku
Wajah mereka seakan berkata
Tolong kami dari kerakusan negara
Sedikitpun tiada senyuman terlihat
Pada paras polos nan lugu itu
Tlah berjuta wajah teraniaya
Bisanya menyiksa bathin
Akan keegoisan mereka
Bisanya menganyam luka
Akan kerakusan mereka
Bisanya menyulam dendam
Akan ketidakadilan yang mereka ciptakan
Buat apa?
Menghalalkan segala cara demi kebahagiaan semu
Menganggap remeh orang lain
pelan tapi pasti
Pasti melemahkan jiwa muda yang berprestasi
Membuang kupu-kupu bertalenta
Sampai hati meracun jiwa
Sampai hati mengumandangkan tawa
Berhasrat mengumbar nafsu
Menyakiti jiwa seputih salju
Diposting oleh jasmine di 02.00 0 komentar
Citaku Jauh
Terlampau indah untuk memilih
Mengenang sejuta cita akan impian
Sedangkan aku apalah daya
Meredam ingin berhias dusta
meracun ilmu
Peluangtak kan pun kuraih
Terlampau jauh angan ini memburu
Merindu keberuntungan menghampiri
Sesosok jiwa yang letih akan kemunafikan dunia
Sampai kapan…???
Bersanding keringat tak terbatas
Beraroma sia-sia
Semua tak jua berarti
Aku hilang, Aku…
Haaaaaaaaaahhhhhhhh
Menggores tanpa makna , melukis berjuta duka
Arti kesedihan yang tersisa
Beriring penganiayaan sukma menyambut perih
Pilu, sepi jiwaku sesepi jiwa mereka
Terdengar rintihan menyayat ulu hatiku
Wajah mereka seakan berkata
Tolong kami dari kerakusan negara
Sedikitpun tiada senyuman terlihat
Pada paras polos nan lugu itu
Tlah berjuta wajah teraniaya
Bisanya menyiksa bathin
Akan keegoisan mereka
Bisanya menganyam luka
Akan kerakusan mereka
Bisanya menyulam dendam
Akan ketidakadilan yang mereka ciptakan
Buat apa?
Menghalalkan segala cara demi kebahagiaan semu
Menganggap remeh orang lain
pelan tapi pasti
Pasti melemahkan jiwa muda yang berprestasi
Membuang kupu-kupu bertalenta
Sampai hati meracun jiwa
Sampai hati mengumandangkan tawa
Berhasrat mengumbar nafsu
Menyakiti jiwa seputih salju
Diposting oleh jasmine di 02.00 0 komentar
Sabtu, 17 September 2011
MELODY DALAM KEHIDUPAN
Menggema suara adzan bersahut-sahutan sore itu . Tergambar begitu jelas panorama yang sangat langka untuk zaman yang terbilang maju saat ini. Langit seakan menyanyi saat itu , angin pun mengiringi dengan pelan dan lembut seakan ikut senang akan terciptanya suasana yang langka itu . Terdengar lantunan ayat suci alqur`an dimana-mana , memajukan langkah untuk pergi menghadap yang kuasa. Siapa sangka disaat itu lahirlah seorang putri dari sebuah keluarga “Broken Home“ . Akankah dengan kelahiran sang buah hati akan menyatukan keluarga “Broken Home” ini , atau sebaliknya?
Disebuah gubuk yang hanya disanggah oleh beberapa kayu lapuk serta beralaskan kapuk yang basah karena sering terkena air hujan , terlihat Tina ibu rumah tangga yang sedang hamil 9 bulan lebih , sedang mondar-mandir tak menentu sambil memegangi perutnya . Tiba-tiba dia berteriak karena dia akan melahirkan . Sungguh malang nasibnya karena tempat tinggalnya terletak di daerah terpencil apalagi suaminya tak jelas kapan pulangnya karena menurut cerita dari mulut-kemulut dia telah beristri lagi sehingga Tina dilantarkan, padahal sedang hamil tua. Sehingga tidak seorangpun datang membantunya.
“Ya Allah… apa yang harus aku lakukan . Berikanlah hambamu ini kekuatan untuk mengeluarkan buah hatiku ini”, ucapnya sambil menahan sakit . Aaaaaaaaaaaa…….. Tidak…tidak…tidak… aku pasti bisa , ayo nak bantu ibu dorong ya , ibu yakin kamu anak pintar . Bantu ibu ya . Allaaaaaah Huakbaaaarrrr………??? [ucapnya berteriak sambil terus mengeluarkan air mata].
Dengan sekuat tenaga Tina berusaha melahirkan sendirian . Selang beberapa lama , akhirnya dia berhasil melahirkan buah hati yang selama ini dia idamkan . Buah hati yang akan menemani harinya yang selama ini sepi tanpa ada cerita manis untuk di ceritakan , yang ada hanya kepedihan yang sulit terungkap namun pasti sakit dirasakan .
[Owek…owek…terdengar suara bayi perempuan]. ”Astagfirullah al`adzim , ada apa dengan bayiku ya Allah . Kenapa dia harus terlahir tanpa bisa melihat indahnya dunia . Kenapa tidak kau ambil saja mataku sebagai gantinya . Sungguh aku tak kuasa melihat dia dengan keadaan seperti ini “, ucapnya menangis sambil duduk bersimpuh , lemah tak berdaya .
Sementara itu , bayi itu terus saja menangis . Meminta kehangatan dan perlindungan sang ibu dan ayahnya. Sedangkan ibunya tak kuasa melihat semua itu , dia hanya bisa memeluk sang bayi sambil terus menangis , menangis dan menangis berharap sang buah hati bisa tertidur di pangkuannya .
”Tidurlah sayang , jangan takut ibu tidak akan meninggalkanmu sampai maut yang memisahkan kita . Kapanpun kamu butuhkan ibu , bu pasti ada untukmu “, ucapnya tak dapat menahan haru dan tangis.
Sebulan dari kelahiran Melody , begitulah bayi buta itu dipanggil oleh ibunya . Tono , ayah Melody datang . Dengan pakaian yang penuh bau alcohol serta pikiran yang kacau balau karena mabuk , Tono langsung saja masuk kegubuknya tanpa mengucapkan salam . Dilihatnya istrinya sedang tidur dengan seorang bayi perempuan . Melihat semua itu spontan saja Tono yang tidak tahu kalau istrinya pernah hamil langsung marah dan menggeret Tina hingga hampir terjatuh kerena belum sepenuhnya sadar dari mimpinya .
“Anak siapa ini , ayo jawab . Jangan bilang kalau ini adalah hasil selingkuhan kamu dengan Zaky , cowok sialan itu “, ucapnya gusar dengan pandangan mata melotot tak berkedip sedikitpun menatap istrinya .
“[Tetap tenang dan berusaha tabah]. Tentu saja kamu tidak akan tahu tentang asal-usul anak ini . Hampir setahun kamu tidak pulang , kemana saja kamu selama ini . Oh iya , kudengar kamu sudah menikah lagi ya , pantesan aja betah lama-lama tidak pulang “, ucapnya sinis tanpa memperdulikan Tono sedikitpun meski sebenarnya ingin dia peluk suaminya untuk melampiaskan rindunya selama ini .
”Baguslah kalau kamu sudah tahu , jadi aku tidak susah-susah lagi mengatakannya padamu . Sudahlah kau terima saja nasibmu seperti ini dan cepat katakan anak siapa ini “, ucapnya sambil terus menunjuk Melody .
“Ini anakmu Ton! Selama kau pergi aku mengandung anak ini , anak kita . Tapi kamu tidak pernah pulang bahkan yang lebih menyakitkan hatiku kamu malah menikah lagi . Kenapa kamu begitu tega padaku Ton , ayo jawab “, ucapnya tak dapat menahan air mata .
“Ach sudahlah aku tidak percaya , ini pasti anak Zaky kan . Kamu sebenarnya senang melihat aku lama sekali tidak pulang biar kalian berdua bisa leluasa meluapkan cinta kalian disini , ya kan”, ucapnya tak percaya .
“Semuanya terserah kamu Ton . Tapi yang jelas aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Zaky , kami hanya teman baik . Dan yang harus kamu ingat Ton , Zaky itu lebih baik dari pada kamu jadi jangan sekali-kali lagi kamu menghina dia , ngerti kamu “, ucapnya tak dapat menahan emosinya yang semakin lama semakin memuncak .
“Mungkin kamu benar aku tidak lebih baik daripada Zaky dan mungkin kamu juga benar bahwa anak ini adalah anakku , tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakuinya karena anak ini buta , ngerti kamu “, ucapnya sambil terus pergi meninggalkan istri dan anaknya .
“Pergilah untuk selamanya Ton , jangan pernah ganggu kehidupan kami lagi . aku membencimu dan aku bersumpah kalau kamu tidak akan pernah bahagia , tidak akan “, ucapnya tanpa sadar sambil terus menggendong Melody yang terus saja menangis karena mendengar perkelahian itu.
Tanpa terasa hari demi hari , bulan demi bulan dan tahun demi tahun berlalu . Melody kini telah tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita . Meski hampir tujuh belas tahun sudah dia tidak bisa melihat indahnya dunia tapi dia tetap menikmati hidupnya tanpa ada sedikitpun keluh kesah dalam dirinya .
“Hm…hm… begitu sejuknya udara pagi ini . Segar terasa di wajahku . Ditambah lagi nyanyian burung yang semakin menambah indah suasana . Sungguh maha sempurna Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini “, ucapnya kagum dengan segalanya yang dia rasakan pagi itu .“Auw…[ucapnya saat kakinya tersandung batu runcing dan berdarah]. Seandainya aku bisa melihat pasti aku tidak akna tersandung batu seperti ini “, pikirnya sambil terus mengerang kesakitan .
Pikirannya melayang jauh . Dia teringat masa kecilnya , disaat itu dia sedang bermain bersama teman-temannya . “Ayo Melody cepat tangkap kami . Kamu tuch gak bisa melihat atau gimana sich , kami tuch disini tau kok malah cari disana . Oh iya aku lupa ya , kamu kan buta jadi mana bisa tau kalau kami disini ha……….ha……….ha…..”, ucap mereka sambil terus tertawa dan menghina penuh sumpah .
“Apa kamu juga tuli ya . Masak mendengar suara kami saja tidak bisa sich “, ucap mereka sambil terus tertawa .
[Menghela nafas panjang ]. Sabar…sabar… “, ucapnya sambil mengurut dadanya berkali-kali sambil terus berjalan mencari teman-temanya . Tapi karena banyaknya suara yang dia dengar itupun entah dimana-mana maka tiba-tiba…Auw…[kakinya tersandung batu runcing hingga berdarah].Melihat semua itu spontan saja semua temannya semakin bertambah senang dan tertawa bahkan ada yang melemparnya dengan sandal kotor dari parit .
“Mampus lu , memangnya enak . Siapa suruh sudah buta masih aja ikut-ikutan main . Kamu tuch cocoknya di rumah aja , minum susu , cuci kaki lalau tidur dech “, ucap mereka tak dapat menahan tawanya .
“Ach sudahlah , ngapain juga kita pedulikan anak buta ini mendingan kita pergi saja cari permainan lain . Let`s go “, ucapnya sambil terus pergi diikuti dengan teman-temannya .
“[Membersihkan bajunya yang kotor akibat lemparan sandal temannya dan pasir ]. Siapa yang mau terlahir dengan keadaan seperti ini , siapa…??? “, ucapnya sambil menangis. Kenapa kalian begitu jijik melihat kadaanku seperti ini . Tidakkah kalian pikir gimana perasaanku mendapat semua perlakuan kasar dari kalian . Kenapa kalian begitu membenciku . Ya Allah berikanlah mereka pengertian agar tidak salah menilaiku “, ucapnya sambil terus berusaha bangkit .
Dengan tergopoh-gopoh Melody berusaha menyeret kakinya agar bisa berjalan . Ibunya yang melihat kondisi anaknya seperti itu , spontan saja kaget dan langsung memapah anaknya masuk kedalam .
“Sudah Ibu bilang nak , jangan keluar rumah . Diluar kurang sesuai denganmu “, ucap ibunya sambil membersihkan luka Melody .“Tapi Melody bosan bu dirumah terus “, ucapnya sambil pergi menuju kamarnya tanpa memperdulikan ibunya yang terpaku mendengar jawabannya itu .
Akhirnya tidak bisa ditahan lagi segala rasa yang telah berkecamuk selama ini melebur menjadi satu .
Melody pun menangis sejadi-jadinya mengenang segala yang menimpanya selama ini . Didengarnya suara tangis terisak-isak di sebelah . Meski terdengar pelan namun jelas kalau itu suara orang yang lagi menangis . Didengarnya secara seksama siapa yang menangis . Terdengar suara yang sangat di kenalnya ya itu adalah suara ibunya sendiri . Tidak tahan mendengar ibunya menangis , Melody pun pergi kekamarnya .
Melody…Melody dimana kamu nak . Spontan saja lamunan Melody buyar karena suara panggilan ibunya tersebut . Ach kenapa aku harus mengalami kejadian ini lagi “, ucapnya . Tapi kali ini aku tidak boleh buat ibu nangis lagi sambil beranjak pergi menemui ibunya yang sudah mencarinya .
“ Kenapa dengan kakimu nak . Pasti tersandung lagi ya “, ucap ibunya cemas .
“ Ach sudahlah bu jangan cemaskan Melody . Ini hanya luka ringan kok “, ucapnya sambil menggandeng ibunya untuk masuk kegubuknya yang masih bisa bertahan sampai sekarang . Ibu Melody hanya bisa tersenyum melihat kedewasaan anaknya . Mungkin dia memang harus dewasa sebelum waktunya mengingat begitu banyak yang harus dia pikul dan tanggung di usianya yang masih tergolong remaja tersebut .
Sesampainya dirumah . Ibu Melody melihat sesosok cowok yang sangat di kenalnya . Ya itu adalah Tono , suaminya yang sudah hampir tujuh belas tahun tidak ada kabar beritanya . Namun , Tina bingung untuk apa dia datang kemari lagi . Akankah dia sudah berubah . Tina tidak ingin mengada-ada yang tidak jelas . Akhirnya dia mempercepat langkahnya sambil menggandeng Melody .
“ Mau apa kamu datang kemari “, ucapnya tanpa basa-basi . “ Wow” ternyata anakmu sudah besar dan cantik , ya walaupun dia buta sich tapi jadilah ha..ha…ha…”, ucapnya sinis sambil terus tertawa .
“ Kalau hanya mau menghina silahkan kamu pergi dan jangan sekali lagi menampakkan batang hidungmu di hadapan kami , ngerti kamu “, ucapnya semakin emosi .” Baik aku akan pergi setelah aku dapatkan uang dari kalian . Aku butuh uang sekarang , cepat berikan atau aku akan usir kalian dari sini “, ucapnya mengancam .
Namun , Tina tetap tidak mau memberikan uang pada Tono karena mereka memang tidak memiliki uang sedikitpun . Disaat bersamaan Tono nekat membawa Melody untuk di jualnya agar menghasilkan uang . Spontan saja Tina marah dan berusaha mencegah , namun dia malah di dorong hingga jatuh dan terbentur meja . Melihat kejadian tersebut Tono segera kabur .
“ Ibu bangun bu , bangun “, ucap Melody sambil terus menangis dan memapah ibunya sebisa yang dia lakukan .
Langit menghitam diselingi hujan yang disambut suara petir serta angin seakan menyatu pada malam itu , ya malam pamakaman ibu Melody . Membuat semakin pilu suasana hati Melody saat itu. Sedangkan dia hanya duduk termenung meski sekujur tubuhnya telah basah diguyur air hujan. Dia menangis sejadi-jadinya , meluapkan segala perasaannya .
“ Mengapa kau ambil ibuku ya Allah . Tidakkah kau tahu hanya dialah yang aku punya di dunia ini . Sekarang ayo katakan, apa yang harus aku lakukan sekarang dengan kondisiku seperti ini “, ucapnya menangis sambil bersujud tak tentu arah lalu pingsang tak sadarkan diri .
Awan berangsur-angsur menampakkan kecerahannya hingga kini sesosok sang matahari mulai tampak menyinari bumi . Terlihat Melody yang masih pulas dibuai derita berkepanjangan . Sedikit demi sedikit dibukanya mata indahnya dan berusaha bangkit menyongsong hari demi hari yang terasa kelam baginya . Pikirannya pergi melayang jauh , entah apa yang dia pikirkan .
“ Aku harus bangkit dari kesedihan ini . Ya sampai kapan aku harus bersedih dan menyesalai nasibku . Ini adalah jalan hidupku yang harus kutempuh dan jalani “, ucapnya yakin dan terus berjalan meski tak tahu arah tujuannya kemana .
Kakinya terus melangkah menyusuri jalan setapak yang tampak becek dan kumuh . Didengarnya suara anak kecil yang begitu ribut entah apa yang dibicarakannya . Akhirnya tersadarlah Melody bahwa dia berada di kolong jembatan tempat para anak terlantar tinggal .
“ Wah kenapa kakak bisa sampai sini . Pasti kakak tidak punya tempat tinggal ya . Tinggal aja kak bersama kami semua , lagian kami membutuhkan seorang kakak yang bisa menjaga dan melindungi kami “, ucap salah seorang anak terlantar tersebut .
Melody tidak langsung menjawab . Pikirannya masih terbayang dengan gubuk peninggalan ibunya . Namun , dia tidak mau kembali kesana karena terlalu banyak kenangan bersama ibunya disana . Beberapa saat kemudian…
“ Hm… bila kalian semua tidak keberatan kakak tinggal disini , dengan senang hati kakak mau tinggal bersama kalian “, ucapnya sambil tersenyum .
“ Horeee..”, ucap mereka serempak .
Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Melody kalau dia akan hidup bersama anak jalanan di kolong jembatan . Tapi inilah hidup yang telah digariskan oleh yang kuasa . Sebagai hamba-Nya yang taat tentu kita hanya bisa bertawakal dan memohon pada-Nya. Hari-hari dilaluinya dengan mengajar anak-anak jalanan tersebut . Dia sangat bersyukur , walau dengan keadaannya yang seperti itu tapi dia dikaruniai begitu banyak kelebihan terutama di bidang seni . Ya , Melody sangat pandai menari , semua bentuk tarian dia bisa . Suara Melodypun sangat cantik serta dia juga menguasai banyak sekali permainan alat musik baik itu biola , gitar , piano dll . Semua itu yang mengajarkan adalah ibunya , dengan menggunakan alat yang seadanya seperti ember , baskom , kayu , bambu , sendok , ataupun alat-alat dapur lainnya . Dengan alat itulah ibunya mengajarkan Melody untuk menemukan ritme dan ketukan yang indah serta bernilai seni . Cara itu juga lah yang dipakai Melody untuk mengajar anak-anak jalanan tersebut .
“ Adik-adik . Jangan nilai dari alat yang kita pakai tapi nilailah dari hasil yang akan kita dapat setelah kita tahu cara menggunakannya “, ucap Melody saat mengajar .
Dengan tekun anak-anak jalanan tersebut belajar . Meski mereka banyak kekurangan baik dalam bentuk materi , fisik ataupun pikiran . Itu semua tidak menghalangi mereka belajar . Melodylah yang selalu dan terus memberikan mereka semangat . Bahwa kekurangan tidak akan menghalangi kemajuan kita untuk sukses dan maju selangkah diantara yang lain .
“ Jangan pernah putus asa dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang kita miliki . Lihat kakak , meski kakak buta tapi kakak tetap belajar dan bisa memainkan berbagai alat musik serta pandai menari . Kalian semua pasti bisa seperti kakak meski dengan bidang yang berbeda . Tidak akan ada manusia yang menginginka lahir dengan keadaan cacat serta keterbatasan lainnya . Tapi inilah takdir . Dan kita harus menghadapinya bukan malah menghindarinya , ngerti adik-adik semua”, ucap Melody dengan mata berkaca-kaca .
“ Mengerti kak “, ucap mereka bersamaan.
Tanpa terasa sudah hampir setahun Melody mengajar anak-anak jalanan tersebut . Hampir setahun pula dia mengajar di SLB (Sekolah Luar Biasa) Jakarta Selatan . Apabila hati boleh bicara , mungkin Melody sangat tersiksa bila harus menjadi guru . Karena dia akan selalu ingat almarhumah ibunya saat mengajarkan anak-anak keterbatasan dan kurang mampu tersebut . Meski telah dia ganti cara mengajar tanpa menggunakan alat-alat dapur serta rongsokan lain karena di sekolah itu telah disediakan berbagai macam alat musik lengkap . Tetap saja tidak bisa menghilangkan bayangan ibunya . Kerap kali Melody mengeluarkan airmata saat mengajar .
“ Ya Allah , aku rela menderita asalkan aku bisa memberikan semangat hidup bagi mereka yang sepertiku ataupun lainnya . Aku tidak ingin mereka memiliki masa depan yang kelam sepertiku “, ucapnya sambil menyeka airmatanya yang terus saja mengalir tanpa henti .
Keesokan harinya . Melody mendengar kabar bahwa ayahnya menjadi buronon polisi karena kasus pengaborsian anaknya sendiri .
“ Kakak kenapa sich , kenapa kakak menangis mendengar kabar ini . Emangnya ada hubungan apa kakak dengan buronon ini “, ucap salah seorang muridnya sambil memegang Koran yang baru saja dibacanya . [Hanya diam membisu sambil terus menangis lalu beranjak pergi ]. “Hm mungkin kakak melody lagi banyak masalah “, ucap muridnya lalu pergi masuk kedalam kamarnya .
Dengan pandangan kosong serta pikiran yang amburadul . Melody terus melangkahkan kakinya hingga dia tidak sadar bahwa dia telah sampai dipinggir jalan raya .
“Auw… “, ucapnya kaget sambil terus membersihkan wajah dan bajunya yang kotor akibat kipratan air yang ditimbulkan oleh sebuah mobil yang menyerempetnya .
“ Sorry nona saya tidak sengaja “, ucap pemuda yang mengendarai mobil tersebut . Diperhatikannya wajah Melody dengan seksama lalu dia tersenyum . “ Hm… sepertinya kita pernah bertemu nona . Bukankah nona adalah wanita yang waktu itu saya tabrak waktu di pasar rakyat itu kan “, ucap pemuda itu sambil terus memandangi wajah Melody yang alami namun sangat cantik dilihat . “ Mungkin saudara benar . Tapi saya tidak ingat karena saya buta “, ucapnya sedih .
“ [lama dia berpikir]. Hm… perkenalkan nama saya Mario . saya adalah pengusaha batik di Jakarta selatan sini “, ucapnya sambil mengulurkan tangan .
“ Saya Melody . saya adalah wanita buta yang mengajar anak-anak jalanan dan SLB Jakarta Selatan sini “, ucapnya sambil tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihannya .
“ Wah tidak saya sangka kalau kita berdekatan ya . Kalau begitu sudikah kiranya kalau Melody saya antarkan pulang “, ucapnya dengan penuh harap . Namun , dengan halus Melody berusaha menolak karena dia yakin kalau Mario tidak akan mau pergi kerumahnya dikolong jembatan itu . Namun siapa sangka Mario dengan senang hati dan semangat 45 bersedia mengantarkan Melody .
“ Kalau memang tidak merepotkan Mario , saya bersedia . Apalagi saya memang harus cepat-cepat membersihkan badan saya yang kotor ini “, ucapnya polos tersipu malu .
Akhirnya mobil mereka melaju menuju rumah Melody . Diperjalanan Melody mendengar tangisan seorang anak kecil yang ternyata dilantarkan kedua orangtuanya . Sungguh hati Melody tersentuh sekaligus hancur saat itu . Tergambar begitu jelas masa kecilnya yang begitu pahit saat sang Ayah tidak mau mengakui dirinya sebagai anak dan melantarkan dia beserta ibunya . Tanpa pikir panjang lagi dia peluk anak kecil tersebut dan mengajaknya untuk tinggal bersamanya .
‘ Jangan menangis lagi ya sayang . Disini ada kakak yang akan selalu menjaga dan menyayangimu “, ucapnya tak dapat menahan airmata . Sedangkan anak kecil itu terus saja menangis dipelukannya . Melihat semua itu ada yang aneh terlihat diwajah Mario .
Setelah pertemuan tersebut , siapa sangka akhirnya membuat Mario dan Melody semakin dekat . Mereka terlihat seperti sepasang kekasih . Tapi betulkah mereka mnjalin hubungan …?
“ Mel , kenapa kamu akhir-akhir ini terlihat murung . Ada apa denganmu “, Tanya Mario beberapa saat yang lalu . Namun , Melody tidak pernah memberikan jawaban yang pasti tentang itu . Sehingga , membuatnya semakin penasaran karena dia tidak mau orang yang dia cintai selalu sedih bila berhadapan dengannya .
Suatu hari Mario kebingungan mencari Melody dimana . Tidak seperti biasanya Melody pergi begitu saja saat mereka sedang makan bersama . Semua ruangan restoran telah dia cari namun tidak pula dia jumpai Melody disana . Berkumandanglah adzan saat itu . Sedikit demi sedikit dia menampakkan senyum mautnya dan segera pergi ke masjid yang tak jauh dari restoran temapat dia dan Melody makan bersama .
“ Ya Allah , entah mengapa setelah sekian lamanya diriku hidup tanpa melihat indahnya dunia . Kenapa akhir-akhir ini sering terlintas dipikiranku , betapa bahagianya hati ini bila bisa melihat indahnya dunia ini . Bisa melihat ayah , ibu , Mario dan yang lainnya “, ucapnya berteteskan airmata sambil terus menggenggam foto almarhumah ibunya tersebut .
Mendengar doa Melody tersebut . Entah mengapa hati Mario tersentuh hingga dia tidak bisa menahan segala perasaannya lalu pergi entah kemana . Selang beberapa lama dari kejadian tersebut , Mario mengajak Melody kesuatu pesta untuk menghibur hati Melody yang dirudung kesedihan . Sesampainya disana , bukannya ketenangan dan kesenangan yang didapat Melody namun hinaan dan cacian karena keadaannya yang buta tersebut . Sehingga mereka para tamu undangan lain merasa bahwa Melody tidak cocok dengan Mario saat itu . Dengan perasaan hancur tak terungkap lagi maka pergilah Melody tanpa menghiraukan Mario yang terus mengejarnya .
“ Melody tunggu aku , Melody…”, teriak Mario saat itu . Namun Melody terus saja berlari hingga akhirnya dia bersimpuh disuatu persimpangan jalan yang sepi .
“ Ya Allah , kenapa mereka menghinaku . Tidak tahukah mereka bahwa aku juga tidak ingin seperti ini . Hidup dalam kegelapan dan kesepian tanpa bisa melihat indahnya dunia “, ucapnya pilu . Bertambah pilulah hati Mario mendengar keluh kesah wanita yang dicintainya . Tanpa terasa airmata telah jatuh dipipinya . Dia pun pergi karena tidak ingin Melody mendengar tangisnya .
Seminggu dari kejadian yang memilukan tersebut . Datanglah kabar dari rumah sakit bahwa ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya serta membiayai semua biaya pengoperasiannya . Mentari seakan tersenyum serta mataharipun begitu hangat terasa saat itu . Tanpa membuang waktu akhirnya Melody menjalankan operasi mata tersebut . Walaupun hatinya gelisah karena selama operasi itu mau berlangsung hingga berjalan , dia tidak mendengar kalau Mario ada menemaninya .
Setelah menunggu beberapa jam akhirnya operasi tersebut selesai dan berjalan dengan baik . Dibuka mata Melody sedikit demi sedikit . Secerca cahaya menyelinap masuk menembus matanya . Pertama-tama memang masih terasa buram namun lama kelamaan Melody benar-benar bisa melihat indahnya dunia sasat itu . Tiada yang bisa dia ungkapkan mengenai bahagianya dia saat itu. Namun satu yang terus mengganggu pikirannya . Ya Mario . dia terus saja mencari Mario . Hingga akhirnya seorang suster memberikan surat yang ternyata surat itu adalah surat dari Mario
Dengan perasan yang tak tentu Melody membuka dan membaca surat tersebut . Setelah beberapa lama …
“ Tidaaak …, Mario jangan tinggalkan aku ...? “, ucapnya lalu pingsan tak sadarkan diri .
Diposting oleh jasmine di 22.18 0 komentar

